⚠️ Perhatian: Artikel ini adalah penulisan ulang dari berita publik “Muncul Nego Saham Bank Central Asia (BBCA)” oleh Thresa Sandra Desfika, Investor.id. Untuk analisis detail, baca laporan asli di sini.
Ringkasan
Saham Bank Central Asia (BBCA) jadi buah bibir di awal pekan. Ada transaksi jumbo di pasar negosiasi BEI, sementara di pasar reguler harganya justru melemah. Di saat yang sama, BCA menepis kabar di media sosial soal rencana akuisisi terhadap bank tersebut. Berikut rangkuman lengkapnya.
Transaksi Besar di Pasar Nego BEI
Pada Senin (28/9/2026), tercatat transaksi saham BBCA di pasar negosiasi BEI dengan nilai cukup besar. Merujuk data RTI, sebanyak 1 juta lot saham berpindah tangan di harga Rp 6.212 per saham, dengan total nilai mencapai Rp 621,2 miliar.
Perlu dicatat, hingga berita sumber ditulis, belum ada penjelasan resmi soal siapa atau apa di balik transaksi tersebut.
Bagaimana di Pasar Reguler?
Kondisinya berbeda di pasar reguler. Saat berita sumber disusun, harga BBCA turun 1,20% ke level Rp 6.175. Sejauh itu, sebanyak 36,5 juta saham sudah diperdagangkan dengan frekuensi 9.559 kali dan nilai transaksi Rp 226,72 miliar.
Pandangan UOB Kay Hian soal BBCA
Menurut riset UOB Kay Hian Sekuritas, broker ini masih memberi rekomendasi buy untuk BBCA dengan target harga Rp 8.150. Angka itu setara potensi kenaikan sekitar 30% dari harga saat riset dibuat. BBCA juga dijagokan sebagai saham pilihan utama UOB Kay Hian di sektor perbankan.
Apa alasannya? UOB menilai BBCA punya pendanaan yang kokoh, plus modal dan likuiditas yang memadai. Broker tersebut juga menyebut peluang naiknya valuasi (rerating) BBCA bisa muncul jika kinerja ekonomi makro Indonesia membaik dan dana asing kembali masuk ke pasar saham.
Catatan: rekomendasi dan target harga di atas murni pandangan UOB Kay Hian sebagaimana dilaporkan Investor.id, bukan rekomendasi dari kami.
Kinerja Laba BBCA
Dari sisi kinerja, BBCA membukukan laba bersih (bank only) sebesar Rp 4,92 triliun pada Agustus 2026, tumbuh 13,1% dibanding periode yang sama tahun lalu. Secara akumulatif, laba BBCA sudah mencapai Rp 40,17 triliun, naik 2,85%.
Untuk ke depan, UOB memproyeksikan laba bersih BBCA sebesar Rp 60 triliun pada 2026 dan Rp 65 triliun pada 2027. Sementara itu, imbal hasil dividen (dividend yield) diperkirakan 5,7% pada 2026 dan naik menjadi 6,1% pada 2027.
BCA Bantah Isu Akuisisi di Media Sosial
Di tengah pergerakan saham tersebut, BCA membantah kabar yang beredar di media sosial tentang rencana akuisisi yang dikaitkan dengan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. Kabar itu menyebut bank swasta terbesar di Indonesia ini akan diambil alih.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, menegaskan lewat keterangan pada Jumat (25/9/2026) bahwa informasi tersebut tidak benar dan perseroan tidak punya rencana aksi korporasi seperti yang dikabarkan.
BCA juga mengimbau nasabah dan masyarakat agar tidak gampang percaya pada informasi di media sosial. Kebenaran kabar sebaiknya dicek lewat sumber resmi perusahaan atau media yang kredibel. Menurut Hera, BCA menjalankan usahanya dengan prinsip kehati-hatian dan integritas, serta patuh pada ketentuan regulasi yang berlaku.
Key Takeaways
- Terjadi transaksi 1 juta lot saham BBCA di pasar nego BEI di Rp 6.212 per saham, senilai Rp 621,2 miliar, pada Senin (28/9/2026)
- Belum ada keterangan resmi soal transaksi nego tersebut; di pasar reguler BBCA melemah 1,20% ke Rp 6.175
- UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 8.150 (potensi naik 30%)
- Laba bersih BBCA (bank only) Agustus 2026 Rp 4,92 triliun, naik 13,1% secara tahunan
- BCA membantah isu akuisisi terkait Haji Isam dan mengimbau publik memverifikasi informasi lewat sumber resmi
Sumber: Investor.id | Penulis Asli: Thresa Sandra Desfika | Tanggal: 28 September 2026


